BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Selasa, 11 Agustus 2009

DATA - DATA ILMU

ILMU AGAMA,ILMU PENTING

Kalau ada yang nanya, "Kuliah di mana?" Aku pasti akan menjawab, "Kimia UGM" Bangga, mungkin. Karena sudah ada image bahwa UGM adalah kampus paling top se-Jogja. Tapi bisa jadi penanya langsung mencibir, karena aku memang masuk di jurusan yang ngga bergengsi. Tapi masih mending kan kimia UGM daripada yang lain… hehehe. Tapi bisa juga jadi sial masuk UGM, karena makin hari makin banyak aja masalah di UGM, terutama masalah biaya. Tapi masalah sebenarnya bukanlah pertanyaan dan jawaban tadi. Sebenarnya ngga jadi masalah, ketika kuliah di mana pun, jurusan apa pun, karena pada hakikatnya adalah proses untuk menimba ilmu. Ilmu, seperti yang seseorang bilang beberapa waktu lalu, yang utama dan yang terpenting adalah ilmu agama. Sedangkan ilmu-ilmu yang lain, entah itu kimia, fisika, psikologi, bahkan astronomi atau antropologi sekalipun, sebenarnya hanya menjadi sarana untuk menimba ilmu-ilmu agama. Jadi, tetap yang nomor satu adalah belajar ilmu agama. Menurut uraian di atas, maka akan menjadi salah bila lebih mementingkan ilmu-ilmu lain dibanding ilmu agama. Akan menjadi salah bila hati lebih tergerak untuk ngutak-atik ilmu lain, selain ilmu agama. Akan jadi salah pula kalau mengesampingkan bahkan melupakan ilmu agama. Yang benar adalah mengutamakan ilmu agama daripada ilmu-ilmu yang lain. Menggunakan ilmu lain untuk memperkaya ilmu agama. Caranya? Gampang teorinya, tapi ngga gampang pelaksanaannya. Misal nih, di kimia banyak membahas masalah atom atau mungkin molekul suatu zat. Atom itu kan kecil sekali, bahkan ada yang bilang kalau atom itu bagian terkecil dari suatu zat. Tapi belakangan pendapat ini disanggah oleh ahli-ahli lain yang menemukan bahwa atom masih dapat dibagi lagi. Nah lo… Tentunya, saat belajar tentang atom, tidak membuat kita melulu bicara soal energi, reaksi, atau yang lain yang berhubungan dengan atom itu sendiri. Mungkin dengan memusingkan hitungan-hitungan atau pun mekanisme-mekanisme reaksi dari atom-atom suatu zat, malah justru membuat kita lupa bicara tentang point pentingnya. Kalau disebutkan ilmu agama adalah dasar dari segala ilmu, maka harusnya setiap mempelajari ilmu tidak boleh mengesampingkan ilmu agama. Saat belajar atom, bisa menjadi pengingat bahwa kita pun bernasib sama dengan sang atom. Kalau atom adalah materi terkecil dari suatu zat, maka kita pun punya posisi yang sama dengan atom bila dibandingkan dengan Sang Maha Besar. Jadi sambil belajar bisa ingat juga dengan hakikat penciptaan kita sebagai manusia. Ini point pentingnya. Ngga cuma itu. Kalau dikaitkan bakal banyak banget hal-hal di kimia yang bisa jadi perenungan. Dari cara suatu atom "berinteraksi" dengan atom lain. mengapa untuk atom ini tidak mengadakan ikatan dengan atom itu, tentang bagaimana si atom suatu unsur dapat menjadi stabil dengan menempati energi tertentu. Semua bisa dianalogikan dengan kehidupan manusia. Tentang interaksi sesama manusia, tentang hal-hal yang membuat manusia menjadi stabil. Pokoknya banyak hal bisa jadi bahan renungan. Intinya, semua kembali ke satu hal. Sebagai pengingat bahwa kita adalah manusia, dan ada kekuasaan yang lebih besar, yaitu Sang Maha. Tapi susah juga ya untuk sekedar mengingat adanya hal-hal "kecil" yang sebetulnya justru tidak boleh terlupakan. Ya, seperti uraian di atas tadi. Kesannya kalau belajar kimia, yang terpikir adalah ilmu ini terpisah dari ilmu agama. Yang terbayang kalau mendengar tentang ilmu agama adalah masalah sholat, puasa, zakat, haji, dll. Padahal justru dengan belajar ilmu-ilmu selain agama harus lebih mengingatkan kita tentang hakikat hidup di dunia.

Keutamaan Ilmu:
Keutamaan menuntut ilmu sangat banyak sekali, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam “Buah Ilmu menyampaikan kepada kita sampai 129 sisi keutamaan ilmu, beberapa keutamaan ilmu diantaranya:

“Adakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar(39):9)

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”(Al-Mujadilah(58):11)

“Barangsiapa berjalan di satu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalan menuju jannah. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu tanda ridha dengan yang dia perbuat. “(Dari hadits yang panjang riwayat Muslim)

“Barangsiapa keluar dalam rangka thalabul ilmu (mencari ilmu), maka dia berada dalam sabilillah hingga kembali.”(HR.Tirmidzi, hasan)

“Barangsiap menempuh jalam untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”(HR.Muslim)

“Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan maka Allah akan pahamkan dia adalam (masalah) dien (agama).”(HR.Bukhari)

Ilmu yang dipelajari
Apakah yang dimaksud dengan ilmu pada hadits-hadits di atas? Apakah seluruh ilmu? Yang dimaksud ilmu di situ adalah ilmu nafi’ yaitu ilmu yang bermanfaat, yang akan mewariskan kebaikan dan barakah kepada penuntutnya baik di dunia ataupun di akhirat. Karenanya ilmu yang patut dituntut dan diusahakan untuk meraih adalah ilmu syar’i yang dengannya amal akan menjadi baik dan benar. Ilmu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan ijma sahabat.

Apakah kita harus mempelajari semua ilmu yang ada? Tentunya tidak. Semua orang dilahirkan dengan kemudahan yang berbeda-beda. Kalau semuanya akan dituntut, sampai akhir hayatpun tidak semuanya dapat dipelajari, karena ilmu adalah samudera yang maha luas.

Apa yang mesti kita pelajari terlebih dahulu?
Pertama, Kitabullah. Ilmu yang pertama serta utama yang sekaligus sebagai dasar, sumber dan pedoman yang agung bagi ilmu-ilmu yang lainadalah Al-Qur’an. Marilah Al-Qur’an kita baca, kita pelajari isinya dan kita amalkan apa yang terkandung di dalamnya.

Kedua, Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Yaitu setiap apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apakah itu ucapan, perbuatan, atau persetujuan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita pelajari dan kita laksanakan perintah-perintahnya dan kita tinggalkan larangan-larangannya. Kita juga berkewajiban untuk mencontoh Nabi, karena beliau adalah suri teladan yang baik bagi kita. Terkadang ayat-ayat al-Qur’an belum dapat dipahami secara langsung, dan hanya bisa dipahamai dan diamalakan dengan petunjuk dari sunnah nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Misalnya perintah sholat, di Al-Qur’an tidak ada penjelasan bagaimana tata cara sholat, dengan mempelajari sunnahnya kita dapat mengetahui tata cara sholat yang diperintahkan.

Ketiga, Aqidah atau Ilmu tauhid
Ilmu ini memiliki kedudukan yang tinggi. Kebutuhan kita yang paling mendesak saat ini adalah mempelajari aqidah islamiyah. Jadikanlah mempelajari aqidah sebagai prioritas utama. Karena sekarang ini syirik merajalela, di mana-mana, hampir tidak pernah sunyi dari kesyirikan dengan berbagai macam bentuknya. Pelajarilah dengan sebenar-benarnya, agar diri kita tidak terkena noda syirik. Bukankah syarat pertama diterimanya amal adalah bertauhid kepada Allah, tidak melakukan kesyirikan?

Keempat, ilmu tafsir
Dengan ilmu tafsir, kita dapat memahami ayat-ayat yang sulit, yang belum dapat kita pahami langsung dari Al-Qur’an. Dalam kitab tafsir dijelaskan tafsir ayat dengan ayat, tafsir ayat dengan hadits. Namun perlu diperhatikan, pelajarilah kitab tafsir yang penulisnya memiliki aqidah yang shahihah dan komitmen terhadap hadits-jadits yang shahih.

Kelima, ilmu fiqh
Ilmu ini berhubungan erat dengan pelaksanaan ibadah, syarat-syarat dan rukun-rukunnya. Sungguh-sungguhlah menuntut ilmu ini, karena apabila tidak dipelajari secara benar, maka ibadah yang kita lakukan bisa sia-sia. Dengan ilmu ini kita bisa mengetahui tata cara peribadatan. Tentunya tidak harus semunya kita tahu, bagi kita, minimal mengetahui apa-apa yang selalu kita kerjakan sehari-hari, seperti thaharah, shalat, puasa, dan yang lainnya.

Pelajarilah ilmu-lmu tersebut sesuai dengan kemampuan kita. Prioritaskanlah yang harus diprioritaskan. Dahulukanlah mana yang harus didahulukan. Pelajarilah hal-hal yang merupakan wajib a’in (fardhu ‘ain) bagi kita.


Sesungguhnya orang-orang yang shiddiq (benar) dalam niatnya, ikhlash dalam ilmunya, memelihara amalannya, mereka akan selalu terbimbing untuk menjalankan kebenaran dan dijauhkan dari seluruh kejelekan dan kejahatan dalam beramal.

. Adapun orang-orang yang dihiasi dengan pakaian yang berlawanan dengan keadaan tersebut, maka akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya.


Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, sesungguhnya pembicaraan tentang ilmu agama Allah ‘Azza wa Jalla adalah pembahasan yang sangat besar dan luas. Tetapi, wajib bagi kita memperhatikan perkara amal setelah kita berilmu. Sebagaimana diriwayatkan dari para salafuna sholih radliyallaahu’anhum. “Ilmu adalah pohon, buahnya adalah amal”. Pohon tanpa buah apakah berfaedah dan memberikan kebaikan ?! ataukah hanya berfungsi sebagai hiasan saja. Luarnya menampakkan keindahan dan rahmat, akan tetapi batinnya berada dalam ancaman adzab Allah ‘Azza wa Jalla.


Demikianlah wahai kaum muslimin.., Kita melihat mereka yang menyelisihi jalan yang ditempuh para ‘ulama. Jauh dari bimbingan kitabnya Dzat yang di atas samaa’ (langit). Jauh dari sunnahnya pemimpin Al Anbiya’ (yaitu Rasulullah’alaihishalaatu wasallam).

Mereka dalam keadaan tidak bertambah sedikitpun ilmunya, amalnya, ketaatannya, iltizamnya (berpegang teguh kepada ilmu agama), demikian juga dakwahnya. Pada akhirnya kebenaran tenggelam akibat penyimpangan yang mereka lakukan. Tetapi, ilmu agama Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa berkibar benderanya, tinggi kedudukannya, dan tegar bangunannya yang selalu dibawa para ahlul haq (’ulama yang berpegang teguh di atas kebenaran Al Quran dan As- Sunnah).

Tidak menutup kemungkinan bahwa kebenaran pada saat ini didasari pada banyaknya pengikut !!! Atau dengan banyaknya pengikut itu menunjukkan bahwa mereka di atas kebenaran ! Padahal sesungguhnya dalil seseorang berada di atas al haq adalah hujjahnya.

Keterangan seseorang di atas al haq adalah dalil-dalilnya. Cahaya seseorang di atas al haq adalah kejelasannya.


Dari sinilah, meskipun jumlah ahlul haq sedikit, tetapi mereka adalah golongan yang paling kuat hubungannya dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena mereka senantiasa mencari dan meminta pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla ! Menyerahkan seluruh perbuatannya hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ilmu, amal, ucapan, dan keyakinan mereka sandarkan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Adapun selain ahlul haq, sedikitpun mereka tidak bersandar di atas hukum Al-kitab dan As- sunnah. Tetapi bersandar pada hawa nafsu, perasaan, semangat tinggi individualisme, pemikiran guru/ ustadz/syaikhnya. Apabila telah datang bimbingan dari para ‘ulama ahlussunnah, sedikitpun mereka tidak menoleh dan tidak pula mengangkat kepalanya untuk menjalankannya.


Ilmu robbani adalah ilmu yang menghantarkan seorang hamba kepada robbnya. Ilmu robbani adalah ilmu yang hanya bertujuan meraih keridhoan Allah Tabaroka wa Ta’aala. Dengan demikian, jadikanlah keridhoan, amalan, dan perbuatanmu hanya untuk mencari keridhoan Allah karena sesungguhnya keridhoan manusia tidak kekal selamanya dan akan berubah, sedang ridho Alloh akan kekal selamanya.

Apabila dikatakan oleh seseorang, “Ini adalah perkara yang baik !” Ada orang lain yang berkata, “Ini perkara baik dipandang dari segi demikian.” Berkata orang ketiga, “Ini adalah perkara yang jelek.” Berkata orang keempat, “Ini adalah demikian dan demikian.” Setiap orang akan berkata dan berkomentar dengan akalnya !!! Setiap orang akan berkata dan berkomentar dengan hawa nafsunya !!! Apabila kita berselisih dalam suatu perkara ! Kemana akan kita kembalikan ?! Apakah kita kembalikan kepada dasar pemikiran dan akal ?! Tidak demi Allah !!! Kita kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya:

“Apabila kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya (Al-Quran dan As-sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya (balasannya)”. (Q.S. An Nisaa’ : 59)


Mustahil kita bisa mengembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam, apabila kita berselisih padahal kita sebagai orang-orang yang mubtadiin (baru belajar agama) ! Dengan kuatnya kita berpegang teguh dan mengembalikan kepada dasar pemikiran akal-akal kita ! Dengan kuatnya kita ta’ashub (fanatik tanpa dalil) kepada ucapan-ucapan kita dalam keadaan kita tidak tahu hukumnya secara syar’i ! Dalam keadaan kita tidak bisa memahami suatu hukum syar’i yang disebabkan cekak dan dangkalnya akal kita.


Maka, bimbingan para ‘ulama adalah sebagai perkara asas di dalam kita mengembalikan perselisihan di atas kebenaran Al-Quran dan As-Sunnah karena ‘ulama ahlussunnah adalah golongan yang paling ‘alim dengan sunnah Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam. Para imam ahlul haq adalah golongan yang paling ‘alim dengan al haq. Ini bukan perkara dusta dan dakwaan belaka, tetapi merekalah orang-orang yang telah dipersaksikan keadilan, ilmu, kesabaran, keistiqomahan dakwah, dan iltizamnya kepada ilmu agama Allah dengan rentang waktu yang sangat panjang. Mereka adalah para da’i kebenaran.

Apabila kita memperhatikan, pada saat ini, orang-orang yang demikian jumlahnya sangat sedikit. Ketika nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

عليكم بالجماعة

“Tetaplah kalian di atas Al Jama’ah”.

Maka berkata Abdulllah bin Mas’ud radliyallahu’anhu : “Al Jama’ah adalah seseorang yang berada di atas kebenaran meskipun sendirian.”


Seseorang yang berada di atas al haq (sebagai pengikut rasul dan para shohabatnya), maka dia itu adalah Al Jama’ah, meskipun ia sendiri.

Maka, janganlah kalian terkecoh dengan ketenaran nama-nama !!!!! Gemerlapnya harta dunia ! Jadilah kalian orang-orang yang selalu dihiasi dan berdiri di atas ilmu, berdakwah kepada dan dengannya. Dan itu semua harus di atas dasar ikhlash dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Apabila telah jelas atas kita, wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, seluruh asas dan kaidah tersebut di atas, maka kita pasti mengetahui hakikat ilmu agama Allah dan hakikat ‘ulama. Demikian juga kita pasti mengetahui orang-orang yang menyelisihi ilmu agama Allah dan para ‘ulama.


Dengan ilmu agama Allah kita akan mengetahui bisikan syaithon yang selalu menjerumuskan kepada jalan kesesatan. Dengan ilmu agama Allah kita akan menjadi orang-orang yang siap membunuh syubhat dan syahwat. Akan tetapi, apabila tidak jelas asas dan kaidah tersebut atau kita menjadi golongan yang buta dan tuli, maka kita akan menjadi orang-orang yang sesat, merugi dan celaka !


Wajib bagi kita untuk selalu berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar senantiasa istiqomah di atas al haq. Dan ini yang diajarkan oleh Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam. Beliau adalah seorang rasul. Beliau meminta dan berdo’a kepada Allah agar senantiasa berada di atas jalan yang lurus ! Beliau adalah sebagai qudwah hasanah yang sempurna !


Maka seyogyanya bagi kita lebih muhasabah diri dalam mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.


Jangan sekali-kali kita menyimpang dari contoh yang telah beliau shallallahu’alaihi wasallam ajarkan disebabkan oleh perasaan, semangat tinggi individualisme, syubhat, dan syahwat. Wajib bagi kita bersungguh-sungguh dengan sekuat kemampuan untuk mengembalikan seluruh amalan di atas dasar ikhlash dan mutaba’ah (mengikuti sunnah Nabi shallallahu’alaihi wasallam).


Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya :

“Dan orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik,”. (Q.S. Al ‘Ankabut : 69)


Demikian juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam:

المجاهد من جاهد هواه في ذات الله


“Seorang mujahid adalah mereka yang berjihad untuk memerangi hawa nafsunya

dalam rangka menuju Dzat-nya Allah”.


(Tamat)


(HR. Ahmad juz IV/102, Abu Dawuud juz V/5-6 no. hadits 4597, Ad Daarimi juz II/314, dan yang lainnya dengan lafadz yang berbeda. Hadits shohih lihat mauqif juz I/49 oleh Syaikh Ibrohim ArRuhaily).



(Diterjemahkan dari Kaset Dakwah Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdil Hamid Oleh Al Ustadz Abu’Isa Nur Wahid)


ILMU FIQIH
iqh di zaman generasi awal

Dengan berpedoman pada patokan-patokan tersebut seperti yang telah diuraikan pada edisi minggu lalu, majulah para shahabat dan beberapa generasi di belakang mereka selama beberapa abad dan menghasilkan kebaikan yang telah kita saksikan, dan tiada perbedaan di antara mereka dalam patokan-patokan di atas dan manhaj, kecuali mengenai pemahaman terhadap nash yang disebabkan oleh kemampuan dan latar belakang yang berbeda dalam memahami Ilat (alasan) hukum, dan karena sebagian diantara mereka mendapatkan dalil sementara yang lain belum mendapatkannya.

Ketika datang imam-imam yang berempat, mereka mengikuti tradisi generasi yang sebelum mereka, hanya sebagian diantara mereka ada yang lebih dekat kepada Sunah, seperti; penduduk Hijaz (Ahl Hadist) yang kebanyakan pendukungnya para perowi hadits, sementara sebagian lagi lebih dekat kepada rasio atau pikiran (Ahl Ra'y), seperti; orang-orang Irak yang tidak banyak di jumpai dikalangan mereka penghafal-penghafal hadits disebabkan jauhnya tempat mereka dari tempat diturunkannya wahyu.

Imam-imam tersebut telah mencurahkan segala kemampuan yang ada pada mereka untuk memperkenalkan agama ini dan membimbing manusia dengannya, dan mereka larang orang-orang bertaklid atau mengikut secara membabi buta tanpa mengetahui dalil atau alasannya. Mereka mengatakan: "Tidak seorang pun boleh mengikuti pendapat kami tanpa mengetahui alasan kami."Mereka tegaskan bahwa mazhab mereka adalah hadits yang sohih, karena mereka tidak ingin diikuti begitu saja sebagaimana halnya orang ma'shum, yakni; Nabi SAW.

Ketika patokan-patokan diatas dipegang dengan konsisten, maka terjadinya perbedaan diantara para fuqoha, justru membuat dinamis dan fleksibelnya ilmu fiqh. Perbedaan diantara murid dan guru tidak tabu; Ibnu Abbas banyak berbeda pendapat dengan Ali, Umar, Zaid bin Tsabit, padahal mereka adalah guru-gurunya.

Para fuqoha tabi'in banyak yang berbeda pendapat dengan para sahabat, Imam Malik terkadang berbeda pendapat dengan guru-gurunya yang tabi'in, tabiut tabi'in terkadang berbeda pendapat dengan guru-gurunya; Imam Abu dengan Ja'far as Shadiq, Imam Syafi'i dengan Imam Malik, Imam Ahmad dengan Imam Syafi'i dst. Perbedaan-perbedaan itu tidak sampai melahirkan malapetaka dan gontok-gontokan. Kondisi seperti itu berlangsung sampai abad empat hijrah.


Redupnya Ilmu Fiqh

Pasca para Imam mujtahid, terjadilah kemerosotan ilmu fiqh. Secara ringkas ada beberapa faktor yang meredupkan ilmu fiqh;




Taqlid
Orang-orang yang muncul sesudah para imam yang empat, kemauan mereka untuk berijtihad jadi kendor, sebaliknya bangkit naluri meniru dan bertaklid, hingga setiap golongan diantara mereka merasa cukup dengan mazhab tertentu yang akan diperdalam, diandalkan dan dipegang secara fanatik.

Mereka mencurahkan segala tenaga untuk membela dan mempertahankannya, dan perkataan imam menjadi seperti firman Allah SWT, dan mereka tiada berani mengeluarkan fatwa tentang suatu masalah bila bertentangan dengan kesimpulan yang telah ditarik oleh imam mereka.

Bahkan kultus terhadap imam-imam itu demikian mencolok dan berlebihan, sampai-sampai Karkhi mengatakan :"Setiap ayat atau hadits yang menyalahi pendapat shahabat-shahabat itu kita hendaklah ditakwilkan atau dinasah."

Dan dengan bertaklid dan ta'asub kepada mazhab-mazhab ini, hilanglah kesempatan umat untuk beroleh petunjuk dari Kitab dan Sunah, timbul pula pendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup, dan jadilah pendapat-pendapat fukoha yang dikatakan syari'at, dan orang yang menyalahi ucapan-ucapan fukoha itu dipandang ahli bid'ah hingga ucapannya itu tak dapat dipercaya dan fatwanya tak boleh diterima.


Pelembagaan madzhab-madzhab

Diantara faktor-faktor yang membantu tersebarnya semangat tradisonal ini ialah usaha yang di lakukan oleh para hartawan dan pihak penguasa dalam mendirikan sekolah-sekolah dimana pengajarannya terbatas pada suatu atau beberapa mazhab tertentu yang menyebabkan tertujunya perhatian para fuqoha terhadap mazhab-mazhab tersebut, dan berpalingnya minat dari berijtihad, karena mempertahankan gaji yang jadi nafkah hidup mereka.

Sebagai akibat dari tenggelam dalam taklid dan meninggalkan Al-Qur'an dan As-Sunnah, umat Islam terpecah belah dalam golongan-golongan, hingga mereka berselisih paham tentang hukum nikahnya seseorang bermazhab Hanafi dengan pria bermazhab Syafi'i. Berkatalah sebagian mereka: "Tidak sah, karena wanita itu bersikap ragu-ragu dalam keimanannya "Karena pengikut- pengikut mazhab Hanafi membolehkan seseorang muslim itu mengatakan: "Saya beriman, Insya Allah." Sedang lainnya mengatakan itu boleh, dengan alasan mengqiaskannya kepada wanita golongan ahli Zimmah.

Sebagian akibat dari kondisi diatas, tersebarnya bid'ah dan terpendamnya panji-panji Sunah, melempemnya gerakan akal dan terhentinya kegiatan berpikir serta hilangnya kebebasaan berilmu, suatu hal yang menyebabkan lemahnya kepribadian umat dan lenyapnya kehidupan berkarya serta terhambatnya kemajuan dan perkembangan hingga orang-orang pihak luarpun melihat celah dan lubang untuk dapat menembus memasuki jantung Islam.

Dan akhirnya, Fiqih yang sebenarnya Allah SWT menjadikannya sebagai senjata muslim untuk menghadapi kehidupan dunia maupun akhirat, mengalami kebobrokan yang belum ada taranya, hingga berkhidmah padanya lebih banyak menanamkan dengki dan permusuhan, merusak hati dan persatuan umat. Para ulamanya hanya berkutat menghafalkan matan, dan tidak mengenal kecuali istilah-istilah atau catatan-catatan lampiran bersama pendapat-pendapat yang dikemukakan serta sanggahannya, hingga akhirnya Eropa pun menerkam dunia Islam.

Kemudian sebagai akibat yang tak dapat dielakan, hukum dan budaya asing itulah yang menguasai kehidupan dunia Islam.

Dan kemudian suasana di benua Eropa itulah yang mewarnai rumah-rumah, jalan-jalan, sekolah-sekolah, perguruan-perguruan dan tempat-tempat pertemuan kaum muslimin. Derasnya arus dan gelombang sekulerisme Eropa, semakin kuat hingga dunia Islam; ulama, ormas dan institusi-institusi Islam pun hampir lupa kepada ajaran agamanya; tidak heran jika mereka beramai-ramai menolak syari'at Islam, seperti; penolakan terhadap piagam Jakarta di Indonesia.




Urgensi Mempelajari

Fiqh yang pembahasannya mencakup; masalah-masalah ibadat, seperti; sholat, shaum, zakat, haji, dsb. Dan masalah-masalah muamalat, seperti; pernikahan, jual beli, peradilan, dsb sangat penting untuk dipelajari, supaya kita;




Beribadah dan bermuamalah atas dasar ilmu dan landasan syar'i yang jelas.

Untuk mendapatkan kepastian hukum syara' dalam permasalahan-permasalahan baru.

Untuk menjawab berbagai tuduhan minor terhadap ajaran Islam umumnya dan fiqh pada khususnya.